Waspada dampak Takut Berlebih akibat Pandemi


Merasa takut ketika sedang menghadapi situasi yang menegangkan adalah hal yang normal. Namun, apabila Anda merasakan ketakutan tanpa sebab yang jelas, mungkin saja Anda mengalami gangguan ketakutan berlebihan.

Ketakutan adalah respons adaptif saat ada bahaya. Namun, ketika ancaman tidak pasti dan berkelanjutan, seperti pandemi penyakit virus corona (COVID-19) saat ini, ketakutan bisa menjadi kronis dan memberatkan. Menurut studi online yang dilakukan di Maret 2020 oleh Mertens dkk, disebutkan empat pemicu utama meningkatnya rasa takut masyarakat secara masif di masa Pandemi COVID-19, yaitu:

  • Adanya kecemasan terhadap kesehatan,
  • Penggunaan media reguler (TV, radio, koran, situs berita)
  • Penggunaan media sosial
  • Risiko terhadap orang yang dicintai

Oleh Kwan Hoong & Ray Kemp (2020) disebutkan bahwa masalah tersebut muncul melalui lingkaran setan sebagai berikut:

jejaring sosial → pesan membingungkan dari pejabat kesehatan → berita utama media dan cerita menakutkan → rumor & pesan kontradiktif → lebih panik & takut

Ketika rasa takut mulai muncul, orang beralih ke sumber informasi yang memperkuat pandangan pribadi dan persepsi mereka. Mereka juga cenderung menaruh kepercayaan mereka pada sumber informasi yang paling dikenal, tetapi belum tentu paling kredibel, misalnya, ke jejaring sosial yang sependapat dengan prasangka mereka. Mereka yang mengekspresikan pandangan negatif atau ketidakpercayaan akan berpengaruh dalam meningkatkan ketakutan dan kepanikan masyarakat.

Gangguan Kecemasan Akibat Rasa Takut Berlebihan & Gejalanya

Rasa takut berlebihan dapat menyebabkan timbulnya beberapa jenis gangguan kecemasan yaitu:

1. Gangguan kecemasan menyeluruh

Gangguan kecemasan menyeluruh atau Generalized anxiety disorder (GAD) ditandai dengan perasaan takut berlebihan, cemas, atau khawatir yang berlangsung setidaknya selama 6 bulan. Orang dengan GAD adalah pencemas yang kronis, mungkin mereka cemas & takut secara berlebihan keadaan hidup mereka, seperti keuangan, kesejahteraan anak-anak, dan hubungan sosial mereka. Selain rasa cemas dan takut berlebihan, orang yang menderita GAD dapat merasakan gejala lain, seperti:

  • Sulit tidur
  • Sulit berkonsentrasi
  • Takut berlebihan terhadap hal-hal kecil
  • Dada berdebar-debar
  • Keringat dingin
  • Mudah lelah
  • Otot tegang dan kaku

2. Gangguan panik

Gangguan panik ditandai dengan munculnya ketakutan dan kecemasan berlebihan yang sangat intens secara tiba-tiba, yang disertai gejala fisik seperti jantung yang berdebar-debar, nafas cepat, tersengal atau kesulitan bernafas, gemetaran, banyak mengeluarkan keringat, dan terdapat rasa lemas dan pusing.

3. Fobia

Kata fobia berasal dari bahasa Yunani phobos, yang berarti takut. Fobia merupakan ketakutan berlebihan terhadap situasi atau objek tertentu, contohnya takut terhadap darah, laba-laba, jarum suntik, ruangan sempit atau ketinggian. Rasa takut yang dialami bahkan bisa sampai membuat penderita menghindari objek atau situasi tersebut.

4. Gangguan Obsesif Kompulsif

Gangguan obsesif kompulsif atau Obsessive compulsive disorder (OCD) dapat menjadi sangat kuat dan persisten sehingga dapat menganggu kehidupan sehari-hari dan menimbulkan distress serta kecemasan yang signifikan. Misalnya orang yang selalu bertanya tanpa berkesudahan apakah pintu sudah dikunci atau tidak, terus merasa takut bahwa tangannya tetap kotor walaupun dicuci berkali-kali

5. Gangguan Kecemasan Sosial

Gangguan kecemasan social atau social anxiety disorder, sering disebut fobia sosial ditandai dengan rasa cemas dan takut yang berlebihan terhadap kondisi sosial sehari-hari, seperti takut berbicara di depan orang banyak atau takut menyapa orang lain. Penderita gangguan kecemasan sosial bahkan sering kali menghindari interaksi sosial karena adanya rasa takut dipermalukan atau dinilai oleh orang lain.

6. Gangguan Stres Pasca Trauma

Gangguan stres pasca-trauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) terjadi ketika seseorang mengalami kejadian atau peristiwa yang menyebabkan trauma psikologis berat, seperti kekerasan seksual, kecelakaan, atau bencana alam. Penderita PTSD biasanya akan mengalami ketakutan berlebihan karena sering mengingat peristiwa yang dialami, mimpi buruk, serta rasa cemas yang muncul secara berulang-ulang kembali (flashback).

Jenis-jenis Rasa Takut Berdasarkan 5 Lapisan Kesadaran

Oleh Maharishi Anand Krishna dalam bukunya yang berjudul “The Science of Fear Management & The Art of Being Happy” disebutkan bahwa rasa takut muncul bukan dari luar, melainkan dari diri sendiri. Ada 5 lapisan kesadaran atau kepribadian dalam diri manusia dan rasa takut bisa terjadi pada setiap lapisan:

  • Lapisan Fisik (Annamaya-kosha),
  • Lapisan Energi (Pranamaya-kosha),
  • Lapisan Mental/Emosional (Manomaya-kosha)
  • Lapisan Intelegensi (Vigyanamaya-kosha)
  • Lapisan Spiritual (Anandmaya-kosha)

Rasa takut muncul dalam setiap lapisan secara bersamaan, dengan intensitas yang berbeda. Dalam hal ini, penyelesaian pada seluruh lapisan perlu diupayakan secara bersama, menyeluruh, atau holistik.

Ikuti Kelas Meditasi Pemberdaya Diri Ananda’s Neo Self Empowerment. Latihan meditasi ditempat kami mencakup lapisan kesadaran dalam diri dan diolah untuk mencapai ketenangan dan keseimbangan. Setelah mencapai keseimbangan diri, Anda tidak taku lagi, tidak gelisah lagi, tidak khawatir lagi dan tidak cemas lagi.

Kelas Meditasi dan Yoga bersama AKC Joglo Semar Via ZOOM Online Selama Pandemi

  • Ananda’s Neo Self Empowerment : Setiap Kamis Pukul 19.00 WIB
  • Ananda’s Neo Kundalini Yoga : Setiap Rabu Pukul 19.00 WIB

Sumber : https://amayi.id/index.php/2021/05/01/4-hal-yang-wajib-anda-ketahui-tentang-ketakutan-berlebihan/

Share on :