Seminar Motivasi bersama Anand Krishna di Solo

Setelah rangkaian acara temu hati di Semarang dan Jogja, Bapak Anand Krishna kembali hadir di kota kelahiran beliau di Surakarta sebagai pembicara dalam Seminar Motivasi. Seminar yang bertema “Pendidikan Holistik Untuk Membentuk Karakter & Kepribadian Individu Yang Utuh” ini diselenggarakan pada hari Senin, 3 November 2008 di International Hotel Management School (IHS) Colomadu, Karang Anyar, Surakarta.

Acara dibuka oleh Vice Director IHS, Dra. Ibu Endang R. Guritno MM. Berikut ini ringkasan sambutan beliau.

Ada sebuah keinginan untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Data terakhir dari Kompas, jumlah pengangguran Di Indonesia 20% nya adalah sarjana, baik D3 maupun S1. Dan Dari 20% itu 6,7% adalah S2. Melihat hal itu IHS mengajak masyarakat Surakarta untuk mengadakan investasi di bidang pendidikan bersama IHS. Adapun beberapa hal yang ditawarkan oleh IHS adalah kurikulum berbasis internasional, adanya Double Degree dan ada ikatan dinas untuk ditempatkan di mana pun pada bidang Hospitality Industry. Ikatan dinas ini berlaku bagi seluruh lulusan IHS dan dapat ditempatkan di luar negeri bukan hanya di dalam negeri. IHS sudah berdiri sejak 10 tahun yang lalu dan sudah mampu bekerja mandiri dengan standar kualitas yang mampu bersaing dengan tenaga kerja global.

Acara dilanjutkan dengan paparan dari Bapak Anand Krishna

Barat mengenal Motivasi. Timur tidak mengenal Motivasi. Hanya orang malas yang membutuhkan motivasi. Orang-orang yang tidak punya kemampuan, maka mereka membutuhkan motivasi dari luar. Ada seorang Motivator terkenal di Indonesia setelah dia bekerja bertahun-tahun dan mencapai puncak suksesnya dia dipinang oleh sebuah perusahaan swasta untuk dijadikan CEO. Kemudian dia hanya bertahan 6 bulan. Pada bulan ke 7 dia keluar dari perusahaan itu dalam keadaan stress berat, meskipun dia tidak mau mengakuinya. Ternyata sebagai seorang motivator dia tidak mampu memberi motivasi pada dirinya sendiri.

Ada seorang dosen Ilmu Politik, dia berasal dari Jogja dan dia terjun ke politik praktis dan dia gagal. Yang dibutuhkan bukan motivasi tapi Budhi Pekerti, pekerti berasal dari bahasa Jawa kuno yang sesuatu yang berasal dari dalam, sesuatu yang natural. Buddhi berarti pikiran dan perasaan yang sudah dihaluskan. Mangkunagoro IV adalah seorang Raja sekaligus seorang pedagang yang sukses. Dia adalah seorang yang pertama membuka pabrik gula yang pertama di Indonesia. Bahkan sampai mengekspor ke Cina saat itu.

Barat membutuhkan motivasi. Timur menekankan pada Pengolahan Diri. Sebelum Newton menemukan hukum gravitasi. Timur sudah mengenal hukum aksi-reaksi. Hukum itu berlaku bagi semua orang tidak memandang agamanya. Hukum itu berlaku bagi setiap orang sama.

Sebenarnya dalam setiap agama pun mengatakan hukum itu, meskipun ada yang eksplisit ada yang implisit.
Nabi Isa mengatakan, ” You shall reap what you sow.”
Nabi Muhammad mengatakan, “Setiap anggota badanmu akan dimintai pertanggung jawaban.”
Hukum aksi reaksi mengatakan, apapun yang kamu lakukan akan kembali padamu. Kalau kita mengeluarkan energi untuk bekerja, energi itu akan berbuah. Kalau dalam bekerja kita memikirkan hasil maka energi yang kita gunakan menjadi bercabang, energi itu tidak total maka hasilnya pun tidak maksimal. Bila energi maksimal maka hasilnya akan maksimal.

Dalam Sufi yang penting adalah perjalanan. Untuk apa memikirkan tentang tujuan. Lupakan Tujuan dan berjalanlah. Yang dibutuhkan adalah praktek langsung. Apa yang kita dapatkan dalam ruang ini Cuma 7%. Yang lain kita pelajari di lapangan.

Saya pernah membandingkan antara seorang ahli pijat berpendidikan dan seorang ahli pijat tradisional, dan saya menemukan bahwa ahli pijat tradisional hasilnya lebih memuaskan. Dia bisa tahu mana urat yang sakit, mana urat yang perlu untuk dibetulkan. Saya tanya dia, “Bagaimana bisa tahu tentang hal itu.” Jawabnya, “Bapak karena saya tidak berpendidikan, saya harus menggunakan perasaan.”

Orang-orang yang terpaku pada apa yang tertulis sering kali gagal. Kita harus menggunakan potensi yang ada dalam diri kita. Saya pernah kena leukimia dan saya saat itu sudah divonis mati. Saat itu saya bertemu dengan seorang Lama, seorang rahib di Tibet. Dia mengatakan, “Ini adalah hubunganmu yang terakhir dengan dunia. Terimalah kematian. Jangan melawan kematian. Engkau sudah hidup 36 tahun. Barangkali kematian lebih indah dari kehidupan”. Kemudian saya mendapat kekuatan. Kekuatan untuk melanjutkan hidup.

Maka saya tidak pernah mengatakan tentang motivasi. Saya selalu mengatakan tentang pemberdayaan diri. Self Empowerment. Do I like what I am doing? saya berada di sini karena benar-benar menyukai ilmu ini, atau karena terpaksa. Kalau kita tidak menyukai apa yang kita kerjakan maka kita berjalan menuju kegagalan.

Bila kita belum menyukai apa yang kita lakukan, maka berikan waktu. Belajar untuk menyukai apa yang kita lakukan. Berikan waktu tidak lebih dari enam bulan. Kalau dalam enam bulan kita tidak menyukai apa yang kita lakukan, maka berhentilah. Lakukan sesuatu yang lain yang kita sukai.

I want to do what I like to do. Yang penting adalah will power. Kehendak yang kuat. Buah dari pekerjaan yang kita sukai, pekerjaan yang sesuai dengan keinginan. Baru develop skill. Mengembangkan keahlian yang dibutuhkan. Jangan penuhi otakmu dengan informasi. Al Ghazali mengatakan seekor keledai yang dibebani dengan buku, tidak membuat keledai itu penting. Informasi itu berguna. Tapi jangan jadikan otakmu tumpukan informasi. Berikan otakmu sedikit ruang untuk berpikir. Sedikit ruang untuk mengolah informasi dan menerapkan informasi tersebut dalam keadaan yang dibutuhkan.

Untuk mendapatkan niat yang kuat, kita harus fokus sedikit. Tinggalkan hal-hal yang tidak perlu. Lupakan tentang ayat-ayat cinta. Belajarlah tentang ayat-ayat hotel. Bacalah tentang kisah-kisah orang sukses dengan perhotelan. Lupakan dulu tentang text book. Belajar menyukai perhotelan.

Guide adalah penting bagi perhotelan. Pada suatu saat saya sedang ke India dan bertemu dengan seorang guide. Pada saat sholat dia mempersilahkan tamunya untuk sholat.
Kemudian saya bertanya, “Kenapa kamu tidak sholat?”
Dia menjawab, “saya sedang melayani tamu saya. Bila saya tidak sholat, saya hanya berdosa bagi diri saya sendiri. Tapi bila saya meninggalkan tamu saya, maka saya berdosa pada profesi saya.”
Dia menunjukkan contoh. Nabi saat itu sedang sholat, kemudian ada beberapa orang tamu dari orang Nasrani. Beliau mempercepat sholatNya untuk melayani tamunya.

Saya pernah bawa seorang teman dari Padang untuk datang ke India. Di sana saat sholat dia menjadi Imam. Dan saat itu bagi penduduk India, mereka tidak keberatan. Bukalah wawasan anda terhadap apa yang sedang terjadi pada dunia saat ini. Sebagai orang Perhotelan wawasan anda harus luas. Jangan hanya menjalin kerja sama dengan Singapore dan Australia. Pelajari apa yang sedang terjadi di sana.

Maka pertama bertanyalah, apakah saya mencintai pekerjan saya? Lalu setelah itu bertanyalah apakah keahlian saya sudah cukup memadai. Bila belum mulailah untuk mengasah keahlian. Lalu praktikkan niat dan keahlian itu menjadi perbuatan. Jangan berhenti, lakukanlah apa yang sudah kau niatkan dengan keahlian yang kau punyai.

Yang menjadi tolok ukur keberhasilan dari perhotelan adalah seorang pemandu wisata. Apabila seorang pemandu wisata berhasil untuk melayani seorang tamunya, maka tamu dari mancanegara itu akan kembali untuk berkunjung ke sana. Dan yang menentukan apakah seorang pemandu wisata berhasil untuk melayani tamunya adalah pengetahuan dia tentang budaya.

Apakah di sini ada mata kuliah tentang budaya? Bagaimana kita dapat menerangkan pada wisatawan yang datang ke sini. Kenapa lukisan batik dibuat seperti itu. Apa makna yang terkandung di dalamnya.

Bali dibom tahun 2002 sampai tahun 2006, kondisi Bali sangat merana. Banyak wisatawan yang tidak mau lagi datang ke Bali karena merasa tidak aman di sana. Sejarah budaya Jawa ditulis oleh orang asing. Karena Bali dibom seluruh Indonesia menjadi menderita.

Saya beri contoh yang lain. Nepal adalah sebuah negeri yang tercabik-cabik oleh perang. Kaum komunis yang sekarang berkuasa melawan kaum nasionalis. Selama puluhan tahun negeri itu berperang. Kalau tidak ada pariwisata mereka akan kesulitan untu bertahan hidup. Tahun lalu banyak wisatwan yang tidak dapat datang ke Nepal karena perang, tapi mereka datang dan memberikan cek pada Menteri Nepal. Kami tidak dapat datang tahun ini, biasanya kalau kami datang kami menghabiskan uang sebanyak ini. Ini uangnya mudah-mudahan tahun depan keadaannya sudah membaik. Mereka punya banyak wisatawan luar negeri yang loyal. Di Indonesia tidak banyak wisatawan luar negeri yang loyal.

India diembargo oleh Amerika Serikat selama 12 tahun. Dan Bill Gates tetap menanamkan modalnya di sana. Di Kashmir hotel bintang III di sana lebih jelek dari hotel melati di Indonesia. Tapi banyak tamu asing yang nyaman untuk tinggal di sana. Itu semua karena pelayanan yang diberikan. Mereka tahu tentang budaya mereka dan dapat menjualnya dengan baik.

Bila IHS tidak belajar tentang budaya, IHS akan berakhir dengan mengekspor TKW siap pakai. Kita akan menjadi seperti yang dikhawatirkan oleh Bung Karno, kita akan menjadi bangsa kuli. Setiap mahasiswa yang lulus dari sini harus bisa menjadi duta budaya, duta bagi budaya Indonesia.

Saya pernah makan di sebuah restoran di Inggris. Dan saya diajak makan di oriental restaurant, artinya makan makanan asia. Ada beberapa menu makanan dari India dan Pakistan yang saya ketahui. Tapi dalam menu ada sebuah tawaran exotic salad with peanut dressing. Ini adalah gado-gado. Kita harus dapat menjelaskan kenapa ada gado-gado dalam negeri kita.

Seorang motivator mengatakan 90 % orang tidak mempunyai niat yang kuat. Tapi saya lebih konservatif saya mengatakan 70% tidak mempunyai niat yang kuat. Keberhasilan kita seutuhnya berasal dari kemampuan kita untuk menjelaskan tentang budaya kita.

Bangsa Indonesia baru mulai beajar makan beras 700 tahun yang lalu. Tadinya leluhur kita makan beras sedikit dan juga makan umbi-umbian. Terlalu banyak makan beras membuat kita menjadi goblok. Kita adalah pengkonsumsi mie instan terbesar di dunia. Makan mie intan juga membuat kita jadi goblok. MSG yang kita makan dalam setiap resep masakan kita membuat kita menjadi tumpul.

Kita menjadi bangsa yang tidak punya pendirian sendiri. Kita selalu berkiblat pada bangsa lain. Filsfat tentang nusantara. Filsafat tentang budaya. Para wisatawan membutuhkan informasi tentang hal itu. Beberapa waktu yang lalu , Solo menjadi world heritage city, saya merasa sayang sekali akan hal itu. Saat saya berkunjung ke Malaka, saat itu Malaka juga menjadi world heritage city. Selama 3-4 hari suasana yang ada di sana seperti ada perayaan besar. Seluruh kota berpesta, nereka mempunyai energi yang baru. Setiap orang dari tukang sapu sampai sopir taksi bisa menjelaskan tentang bangunan-bangunan bersejarah di kota itu. Pada sejarah malaka Cuma 300 an tahun. Tidak lebih dari itu. Kalau Portugis tidak menjajah kota itu, mereka tidak akan berkembang.

Sekarang what are we are selling. Kita membabat hutan kita untuk dijadikan lapangan golf. Ini sesuatu yang tidak cerdas. Golf berasal dari Scotland di sana tidak ada apa-apa maka untuk penghijauan mereka menanam rumput. Di sini pohon tumbuh subur dan kita membabat hutan untuk membuka lapangan golf.

-adrian kristanto