Seminar Lingkungan di Balai Kota Surakarta


National Integration Movement Joglosemar bekerja sama dengan Yayasan Marsudirini Surakarta dan Pemerintah Kota Surakarta menyelenggarakan Seminar Lingkungan. Acara ini bertempat di Balai Tawang Arum, Lantai 2, Balai Kota Surakarta. Acara diselenggarakan pada hari Sabtu, 13 Desember 2008 pukul 10.00 – 13.00 WIB dengan pembicara Wali Kota Surakarta, Ir. Djoko Widodo dan Bapak Anand Krishna. Moderator dalam seminar ini adalah Prof. Dr. R.B. Sumanto M.A.

Acara ini merupakan wujud kepedulian warga Surakarta terhadap kelestarian lingkungan. Acara yang berlangsung selama 3 jam diikuti dengan antusias oleh 200 orang. Tampak hadir pula Bapak Wakil Wali Kota FX. Rudy Hadyatmoko.

Acara ini dibuka dengan laporan dari ketua panitia Sr. Helena OSF. Beliau mengungkapkan bahwa pelestarian merupakan wujud kepedulian terhadap permasalahan global yang terjadi dewasa ini. Hal ini juga merupakan semangat St. Fransiskus Asisi yang mencintai lingkungan sebagai wujud cintanya pada Tuhan yang merupakan pelindung biara OSF. Dengan mengurangi penggunaan plastik dan program uang saku sehari untuk menanam pohon sebagai bagian dalam rencana menanam 10 ribu pohon di seluruh wilayah Surakarta.

Pembicara I, Bapak Wali Kota mengungkapkan bahwa beliau mengkaji apa yang menjadi potensi dan permasalahan yang ada di Solo. Sejak pertama menjabat Beliau memang menempatkan Solo sebagai kota yang berbeda dengan kota yang lain. Salah satunya adalah kekuatan karakter budaya, sehingga Solo di harapkan bisa dikenal di tingkat nasional bahkan mendunia. Hal ini dilakukan dengan mengadakan pertemuan seluruh wali kota se-Indonesia di Solo, adanya world heritage city dan festival solo ethnic music. Semuanya adalah berdasarkan Solo sebagai kota berbasis budaya.

Pembicara II Bapak Anand Krishna mengungkapkan bahwa pada tahun 2050 seluruh dunia akan kekurangan air bersih. Sekarang penduduk dunia berjumlah 6 Milyar sudah mulai kekurangan pangan. Kita harus belajar untuk mengolah bangsa ini. Hasil dari Earth Summit di Brazil yang diikuti Pak Anand, mengatakan dari Biodiversity atau keanekaragaman hayati Indonesia adalah negara paling kaya di dunia setelah Brazil. Kita harus menghentikan air sebagai komoditas. Jangan minum air yang diproduksi oleh Nestle. Ini air dari negeri kita, diproduksi oleh orang kita, dibeli oleh orang Indonesia tetapi uangnya dinikmati orang Belanda.

Pak Anand lebih lanjut juga mengingatkan akan adanya konspirasi global untuk menguasai tanah air kita. Kasus di Sudan di mana pemerintahnya menjual lahannya yang subur 880 ribu hektar pada Arab Saudi selama 99 tahun sudah terjadi di Papua dan Kalimantan. Perlu juga kita mengubah pola makan dari makan nasi ke makan singkong. Konsumsi air yang diperlukan untuk proses pengolahan dari padi sampai menjadi beras 20 liter. Ini dapat dihemat. Beliau mencontohkan Presiden Brazil menjamu tamu kenegaraannya dengan singkong dan beliau bangga dengan produk lokal itu. Ada 511 jenis umbi-umbian yang dapat hidup di Indonesia.

Pada sesi tanya jawab ada 4 penanya yang mengungkapkan pendapatnya. Penanya pertama Ibu Norma dari Gerakan Islam Anti Kekerasan. Beliau menanyakan tentang adanya sekelompok masyarakat di Solo yang tidak selaras dengan alam, bagaimana pendapat Bapak Wali Kota? Kemudian penanya kedua Ibu Sudanti dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) ranting Pasar Kliwon menanyakan tentang resapan air terutama untuk rumah susun dan Paragon. Penanya ketiga Bapak Djoko menanyakan tentang mengganti diet makan nasi dengan singkong, bukankah singkong akarnya tidak dalam, sehingga dapat menimbulkan erosi di tanah. Penanya keempat Bapak Hamdani seorang wali murid dari sekolah Marsudirini, beliau mengungkapkan kalau menutup produk air minum kemasan, seperti Aqua dan Nestle bagaimana dengan nasib buruhnya yang juga orang Indonesia.

Bapak Wali Kota mengatakan dalam menghadapi kelompok fundamentalis dari aliran mana pun kuncinya adalah komunikasi. Beliau mencontohkan saat berhadapan dengan PKL di Banjarsari, Beliau mengundang 14 perwakilan PKL dan LSM yang ada di sana dan diajak makan siang bersama sampai 54 kali. Kemudian baru mengungkapkan keinginan beliau untuk merelokasi PKL dari Banjarsari ke Semanggi.

Bapak Anand Krishna mengungkapkan dalam sesi tanya jawab bahwa beliau tidak anti dengan globalisasi. Silahkan bangsa lain berdagang di Indonesia tapi berjualan barang yang tidak diproduksi oleh Indonesia. Dengan masuknya barang impor yang memproduksi barang lokal akan mematikan industri dalam negeri Indonesia. Bapak Anand Krishna juga mengungkapkan agar siswa belajar bahasa Inggris untuk menghadapi kompetisi global tahun 2010.