Pengertian FoMO, Gejala dan Cara Mengatasinya


Pernahkah Anda merasa iri ketika melihat orang lain mengikuti trend terkini? Mungkin Anda sedang mengalami FoMO. Apakah Anda pernah mendengar istilah FoMO sebelumnya? Kemudian apa itu FoMO dan bagaimana cara mengatasinya? Mari kita simak artikel berikut ini.

Apa itu FoMO?

FoMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out atau dalam bahasa Indonesia berarti takut ketinggalan. Istilah FoMO ini, pertama kali dikemukakan oleh seorang psikolog asal Inggris bernama Dr. Andrew K. Przybylski dan istilah ini sudah tercantum ke dalam Oxford English Dictionary sejak tahun 2013.

FoMO dapat didefinisika sebagai rasa cemas dan takut yang timbul dalam diri seseorang akibat ketinggalan sesuatu yang baru seperti berita, trend dan hal-hal yang dilakukan orang lain namun kita tidak dapat melakukannya.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh lembaga JWT Intelligence mengenai FoMO pada tahun 2011, disebutkan bahwa penderita FoMO paling banyak yaitu generasi milenial sebanyak 70%. Dikarenakan generasi tersebut paling aktif dalam penggunaan sosial media. Mereka menggunakan sosial media untuk mencari tahu tentang kehidupan orang lain dan biasanya orang yang dikenal olehnya. Mulai dari apa yang ia kenakan, lakukan, sedang berada dimana dan bahkan status hingga ekspresi orang tersebut saat itu.

Hal tersebut membuat dirinya merasa tertinggal ketika melihat teman-teman mereka sedang melakukan sesuatu yang dirinya belum bisa melakukan seperti membeli sesuatu yang tidak mereka beli atau belum pernah mengunjungi suatu tempat. Hal ini membuat perasaan khawatir  jika melewati trend yang sedang terjadi di kehidupan sosialnya saat ini.

Dalam penelitian tentang Fenomena FoMO yang dialami generasi milenial dalam The Journal Computers in Human Behavior tahun 2013 oleh Dr. Andrew Przybylski dari University of Essex, bahwa terdapat keterkaitan antara FoMO dengan motivasi, emosi dan perilaku seseorang. Individu yang terbuti memiliki tingkat kepuasan rendah atas kebutuhan psikologisnya terbukti memiliki tingkat FoMO yang lebih tinggi.

Apa saja Gejala FoMO?

Tidak bisa lepas dari Ponsel

Kebiasaan memegang gadget seakan sudah melekat dan sulit dihilangkan bagi setiap orang. Anda yang mengalami FoMO akan merasa selalu khawatir berlebihan saat tidak menggenggam ponsel, bahkan dalam waktu sedetik seolah Anda sudah melewatkan banyak berita terbaru. Lebih parahnya, Anda sampai tidak mampu mengatur waktu bermain ponsel hanya karena perasaan cemas akan kehilangan informasi

Lebih Peduli kehidupan di Media Sosial

Ilusi media sosial yang sebenarnya lebih sering menampakkan sisi kehidupan terbaik seseorang, sehingga mendorong banyak orang untuk lebih peduli terhadap pencitraan dirinya di media sosial. Akibatnya, banyak orang mulai tidak peduli dengan kehidupan dan hubungan orang lain di dunia nyata.

Selain itu dorongan untuk membuat kita tampak eksis. Seolah ada perasaan takut dianggap hilang jika tidak memosting sesuatu di media sosial. Parahnya jika sampai kita merasa bahwa apa yang kita kerjakan perlu diketahui oleh orang lain.

Terobsesi dengan Postingan orang lain

Tingkat keingin tahuan kita yang tinggi terhadap orang lain mendorong kita melakukan stalking di media sosial teman sehingga membuat kita terobsesi terhadap postingan mereka. Tidak jarang juga, kita memanfaatkan media sosial untuk bersaing akibat perasaan iri atau semburu terhadap orang lain. Sebuah survey yang dipublikasi dalam majalah Forbes menyebutkan bahwa sumber FoMO yang dialami seseorang dipicu karena ketidakpuasan terhadap hidupnya. Penderita FoMO bahkan sering berpikir apakah orang lebih bahagia dari dirinya.

Bagaimana Mengatasi FoMO?

Manajemen diri dalam mengakses media sosial

Seringkali ketika kita berkumpul dengan teman, waktu senggang bahkan bangun tidur pasti mengecek sosial media. Cobalah untuk mengatur atau memanajemen waktu dalam mengakses sosial media dan kurangi secara perlahan. Jika kta sudah bisa mengurangi waktu bermain media sosial kita akan menyadari bahwa kita tidak benar benar membutuhkannya setiap saat.

Meditasi

Memang tidak mungkin bagi kita benar-benar lepas dari media sosial sebab hamper seluruh aspek kehidupan beralih menjadi aktivitas daring terlebih sejak pandemic Covid-19. Sehingga satu-satunya cara bagi kita untuk tetap sehat secara fisik dan psikis adalah dengan mengelola aktivitas dan informasi yang didapat dari media sosial salah satunya dengan rutin melakukan meditasi.

Manfaat meditasi sendiri sudah banyak diungkapkan oleh para shli baik itu praktisi ataupun akademis, antara lain dapat meningkatkan kesadaran, mencapai ketenangan batin dan pikiran, meningkatkan daya ingat dan focus pikiran, bahkan seorang ahli mengatakan dengan rutin meditasi seseorang mampu dengan mudah mengendalikan pikiran. Pikiran yang terkendali membuat seseorang tidak mudah memkirkan kehidupan orang lain, stress, cemas, depresi maupun frustasi.

Sumber: https://id.theasianparent.com/fomo-pada-remaja, https://bpkpenabur.or.id/jakarta/smak-2-penabur/berita/berita-lainnya/fomo, http://www.teen.co.id/read/5862/ini-3-gejala-gangguan-fomo-atau-fear-of-missing-out-kamu-termasuk-salah-satunya dan https://www.kompasiana.com/umunisaristiana/605824d1d541df475e3afe52/meditasi-praktik-wajib-era-media-sosial.

Share on :