Mengatasi Rasa Takut


“Rasa Takut” adalah salah satu insting yang kita miliki bersama dengan hewan. Lalu, dari “takut”, atau fear, bisa timbul dua reaksi yaitu melarikan diri (Fly)  atau melawan (Fight).

Melihat kampanye beringas salah satu parpol, bisa timbul rasa takut. Kemudian Anda mengambil jalan lain dan menghindari keramaian. Itulah Fly. Tetapi, setelah itu apa yang terjadi? Bagi sebagian orang, kampanye bisa menjadi pengalaman traumatis. Lalu, kampanye tidak kampanye, baru melewati jalan yang sama saja, bisa timbul rasa takut, cemas, gelisah. Bahkan berada di tengah keramaian dalam mal saja, bisa mencemaskan. Ini yang disebut phobia terhadap keramaian.

Anda bisa phobia terhadap apa saja. Misalnya, karena pernah melihat seseorang tenggelam dalam sungai, Anda bisa phobia terhadap air. Melihat kebakaran, Anda bisa phobia terhadap api dan sebagainya.

Akar masalah adalah sikap kita sendiri. Yang berlalu, ya sudah berlalu. Tidak perlu dipikirkan lagi. Kita tidak bisa bersikap demikian. Kita membebani diri dengan pengalaman-pengalaman masa lalu. Kita menyimpannya dalam berangkas alam bawah sadar atau subconscious mind. Berangkas alam bawah sadar ini, filing cabinet subconscious mind ini harus dibersihkan, di buang isinya.

Solusi Instant

  1. Letakkan telapak tangan kanan di atas dada sebelah kiri, persisnya di atas jantung. Dengan mata tertutup, Tarik napas panjang dan buang napas pelan-pelan, selama 5-10 menit. Baik penarikan napas maupun pembuang dilakukan lewat hidung.
  2. Kemudian, pelan-pelan putarkan tangan dengan arah jarum jam sebanyak 7 kali. Setiap kali, sambil mengucapkan “Aku sudah terbebas dari rasa takut”.

Mereka yang selalu bicara tentang positive thinking tidak akan setuju dengan cara ini. Mereka selalu menganjurkan pengguna kata-kata yang meraka anggap “positif”. “Aku tidak sedih” akan mereka ganti dengan “AKu bahagia”. “Aku tidak tenang” akan mereka ganti dengan “Aku tenang”.

Lalu apa yang terjadi? Dari pengamatan Anand Krishna, mereka yang fanatic terhadap positive thinking masih saja babak belur menghadapi ombak kehidupan. Dalam keadaan biasa-biasa, gampang sekalli mempertahankan positive thinking. Tetapi ketika seluruh Jakarta dilanda kerusuhan dan Anda melihat terjadi penjarahan dan pembunuhan dengan mata sendiri, bagaimana bisa mempertahankan positive thinking? Di antara mereka yang eksodus dan melarikan diri dari permasalajan, Anand Krishna mengenali sekian banyak pengikut aliran positive thnking. Ada ahli hipnotis, ada ahli olah pikiran dan mereka semua fanatic sekali terhadap positive thinking.

Lebih efektif, jika kita menghadapi negative thoughts. Ya, pikiran negative itu ada. Rasa takut itu ada. Rasa cemas dan rasa khawatir pun ada. Tetapi sekaang saya sudah terbebaskan dari semua itu.

Kalau tidak demikian, dalam situasi tenang tentram aman, Anda akan berhalusinasi seolah-olah diri Anda sudah tenang juga, sudah tentram juga. Padahal belum demikian. Ketika terjadi suatu masalah, anda bau sadar bahwa positive thinking hanya bekerja sebagai lapusan kosmetika untuk menutupi borok dan noda pada wajah Anda.

Kenapa bisa mencapai kesimpulan demikian?

Karena meraka yang mengajarkan positive thinking, mau tak mau harus menggunakan sugesti dan hipnotis ringan sehingga Anda mulai “mempercayai” efektifitas positive thinking. Sugesti atau hipnotis ringan itu tidak harus lewat kintak pribadi. Bisa juga lewat buku, lewat pita kaset, lewat rekaman video dapan dapat lewat mana saja.

Anda dipengaruhi untuk menerima sebagian kehidupan. Sebagian yang ain, terabaikan. Ya, karena positivitas hanyalah satu sisi kehidupan. Hidup memiliki dua sisi, positif dan negative. Di mana ada positif, ada pula negative. Dimana ada negative, ada juga positif. Yang satu tidak bisa dipisahkan dari yang lain.

Kendati mempercayai positive thinking dan berupaya memikirkan hal-hal yang positif saja Anda tidak mungkin bisa menghindari negativitas. Karena itu, kehidupan harus diterima sutuhnya. Bersama positif, negative pun harus diterima.

Pernahkah terpikir oleh Anda, bahwa mereka yang sedang mengangung-agungkan positive thinking sesungguhnya tengah melarikan diri dari sisi lain kehidupan, yaitu negativitas. Dan pelarian dalam bentuk apa pun, karena alas an apa pun, tidak pernah menyelesaikan masalah.

Kita harus menghadapi hidup ini dengan penuh tanggung jawab, keberanian dan semangat. Entah positif atau negative, dua duanya harus dihadapi.

Baca Juga Belajar Hidup dari Sel Tubuh

Sumber: (Krishna, Anand. (2008). Sehat Dalam Sekejap Dengan Meditasi Dinamis Ananda (MeDinA), Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Share on :