Kenali bahaya dampak Stress pada kondisi tubuh


Pandemi covid-19 berdampak besar bagi kehidupan kita. Sebagian orang khawatir sakit atau tertular covid-19 dan disisi lain mereka juga risau masalah finansial, pekerjaan, masa depan dan kondisi setelah pandemi. Hal ini membuat sebagian orang merasa bingung, cemas, frustasi bahkan stres.

Bagi sebagian orang rasa stress dan cemas menghadapi pandemic corona bisa sampai mengganggu keseehatan mental. Terlebih jika sebelumnya seseorang memiliki Riwayat gangguan kecemasan, depresi, serangan panik atau gangguan obsesif kompulsif.

Menurut profesor epidemiologi psikiatrik di Harvard TH Chan School of Public Health, Karestan Koenen, Ph.D, stres menghadapi pandemi dalam jangka panjang juga dapat memicu gangguan stres pascatrauma (PTSD). Stres juga bisa menjadi sesuatu yang traumatis saat kita merasa tidak mampu mengatasinya.

Bagaimana dampak stress bagi tubuh?

1.Pada system saraf pusat & endokrin

Sistem saraf pusat adalah yang paling bertanggung jawab dalam merespon stres, mulai dari pertama kali stres muncul sampai stres menghilang. Sistem saraf pusat menghasilkan respon “fight-or-flight” saat tubuh mengalami stres. Juga, memberikan perintah dari hipotalamus ke kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon adrenalin dan kortisol.

Saat kortisol dan adrenalin dilepaskan, hati menghasilkan lebih banyak gula dalam darah untuk memberi energi pada tubuh Anda. Jika tubuh Anda tidak menggunakan semua energi tambahan ini, maka tubuh akan menyerap gula darah kembali. Namun, bagi orang yang rentan terhadap diabetes tipe 2 (seperti orang obesitas), gula darah ini tidak bisa diserap semua sehingga mengakibatkan kadar gula darah meningkat.

Pelepasan hormon adrenalin dan kortisol menyebabkan peningkatan detak jantung, pernapasan lebih cepat, pelebaran pembuluh darah di lengan dan kaki, dan kadar glukosa darah meningkat. Saat stres mulai menghilang, sistem saraf pusat juga yang pertama kali memerintahkan tubuh untuk kembali ke normal.

2. Pada sisitem pernapasan

Stres membuat pernapasan Anda lebih cepat sebagai upaya untuk mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh. Hal ini mungkin tidak masalah bagi banyak orang, tetapi bisa menyebabkan masalah pada orang dengan asma atau emfisema. Napas cepat atau hiperventilasi juga dapat menyebabkan serangan panik.

3. Pada system kardiovaskular

Saat Anda mengalami stres akut (stres dalam waktu singkat, seperti karena terjebak macet di jalan), detak jantung akan meningkat, serta pembuluh darah yang menuju ke otot besar dan jantung akan melebar. Hal ini menyebabkan peningkatan volume darah yang dipompa ke seluruh tubuh dan meningkatkan tekanan darah. Pada saat stres, darah perlu dialirkan dengan cepat ke seluruh tubuh (terutama otak dan hati) untuk membantu menyediakan energi bagi tubuh.

Juga, saat Anda mengalami stres kronis (stres dalam jangka waktu lama), detak jantung Anda akan meningkat secara konsisten. Tekanan darah dan kadar hormon stres juga akan meningkat secara berkelanjutan. Sehingga, stres kronis dapat meningkatkan risiko Anda terkena hipertensi, serangan jantung, atau stroke.

4. Pada system pencernaan

Saat stres, peningkatan detak jantung dan pernapasan dapat mengganggu sistem pencernaan Anda. Anda mungkin akan makan lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya. Risiko Anda mengalami heartburn, refluks asam, mual, muntah, atau sakit perut juga meningkat. Stres juga dapat memengaruhi pergerakan makanan dalam usus Anda, sehingga Anda bisa mengalami diare atau sembelit.

5. Pada system otot rangka

Otot-otot Anda akan menegang saat stres dan kemudian akan kembali normal lagi saat Anda sudah tenang. Namun, jika Anda mengalami stres yang berkelanjutan, maka otot Anda tidak mempunyai waktu untuk rileks. Sehingga, otot-otot yang tegang ini akan mengakibatkan Anda mengalami sakit kepala, nyeri punggung, serta nyeri di seluruh tubuh

.

6. Pada system imun

Saat Anda stres, tubuh merangsang sistem kekebalan tubuh untuk bekerja. Jika stres yang Anda rasakan bersifat sementara, ini akan membantu tubuh Anda dalam mencegah infeksi dan penyembuhan luka. Namun, jika stres terjadi dalam waktu lama, maka tubuh akan melepaskan hormon kortisol yang akan menghambat pelepasan histamin dan respon peradangan untuk melawan zat asing. Sehingga, orang yang mengalami stres kronis akan lebih rentan untuk terkena penyakit, seperti influenza, flu biasa, atau penyakit infeksi lainnya.

Bagaimana agar kita terhindar stress?

Lakukan meditasi!

Tubuh merespons stres dengan melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin yang menyebabkan detak jantung, aliran darah, dan tekanan darah meningkat.

Meditasi dapat menurunkan detak jantung kembali. Selain itu, meditasi juga dapat mengatur aliran dan tekanan darah menjadi normal. Saat bermeditasi, Anda turut berlatih mengontrol pikiran, yang bisa menyebabkan datangnya stres. Hal ini membuat pikiran menjadi lebih tenang dari sebelumnya.

Di samping itu, meditasi juga diduga efektif dalam mengaktifkan gelombang gamma di otak yang berperan dalam proses belajar, konsentrasi, ingatan, dan kesadaran. Oleh sebab itu, meditasi mampu menghasilkan kebahagiaan.

Berbagai manfaat meditasi dapat memberikan ketenangan dan keseimbangan jiwa, sehingga emosi dan kesehatan tubuh stabil secara keseluruhan. Manfaat ini tidak hanya akan terasa sepanjang Anda melakukan meditasi, tetapi akan dapat dirasakan dalam aktivitas sehari-hari.

SEGERA IKUTI!

Kelas Meditasi dan Yoga bersama AKC Joglo Semar, Via ZOOM Online Selama Pandemi

  • Ananda’s Neo Self Empowerment : Setiap Kamis Pukul 19.00
  • Ananda’s Neo Kundalini Yoga : Setiap Rabu Pukul 19.00

Informasi dan Pendaftaran: 087888858858 / 0816677225 / 082227774618

Sumber : https://hellosehat.com/mental/stres/dampak-stres-pada-tubuh-anda/ dan https://www.alodokter.com/sering-sakit-dan-stres-coba-meditasi

Share on :