Dampak Smiling Depression untuk Kesehatan Mental


Pernahkah Anda memaksakan tersenyum agar dapat menutupi kesedihan yang sedang Anda alami? Jika pernah mungkin Anda sebenarnya sedang melakukan Smiling Depression atau dalam bahasa indonesianya adalah senyuman depresi. Apa yang dimaksud dengan Smiling Depression? Simak penjelasan pada arikel berikut ini.

Apa itu Smiling Depression?

Menurut World Health Organization (WHO), sebanyak 300 juta orang di dunia menderita depresi dan sebagian dari mereka menyembunyikannya di balik satu simpul senyum. Biasanya kata depresi sering dikaitkan dengan kesedihan, kelesuan, keputusasaan, kecemasan bahkan membuat seseorang tidak memiliki tenaga dan enggan melakukan aktivitas, ia hanya diam diri dikamar tidurnya.

Menurut seorang psikolog klinis bernama Labeaune (2014) bahwa Smiling Depression merupakan kondisi dimana seseorang hidup dengan depresi secara internal, namun tampak bahagia secara eksternal. Seseorang dengan kondisi seperti ini akan memberi tahu kerabat atau orang-orang disekitarnya bahwa ia seolah olah merasa baik dalam menjalani hidupnya dan tidak memerlukan bantuan apapun.

Bagi seseorang yang mengalami Smiling Depression, penampilan luar adalah hal yang penting untuk selalu tampak baik-baik saja kepada siapa pun. Seseorang sering kali mengabaikan perasaan sendiri, karena ia merasa akan dianggap lemah jika menunjukkan perasaan asli (depresi) yang sedang dialaminya. Dengan kata lain, kondisi Smilling Depression yaitu hidup di balik sebuah “topeng mengerikan”, menyembunyikan segala bentuk kesedihan yang mendalam.

Apa Dampak dari Smilling Depression?

Dilansir dari Health Line, ia yang melakukan Smilling Depression cenderung memiliki resiko melakukan suicidal atau bunuh diri yang lebih besar daripada mereka yang menunjukkan depresinya secara terang-terangan. Meski demikian, baik depresi yang ditunjukkan secara terang atau sembunyi tentu sama-sama merasakan sakit atau nyeri yang digolongkan dalam nyeri psikogenik (nyeri atau rasa sakit yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor psikologis), prosesnya disebut nosisepsi.

Proses nosisepsi merupakan proses merasa sakit dimana waktu otak kita akan memproses dan memberi tahu kita untuk bereaksi terhadap rasa sakit. Ketika seorang berperilaku Smilling Depression ini merakan sakit, reseptor khusus akan mengenali rasa sakit itu. Kemudian reseptor yang terhubung ke neuron mengirim sinyal rasa sakit dan neuron menghubungkan reseptor ke bagiann sumsum tulang belakang. Sehingga sinyal nyeri ditreansfer ke otak dan otak menerima serta memproses sinyal untuk menginformasikan tubuh untuk bereaksi.

Dalam proses ini beberapa tahap rasa sakit dapat diblokir sebelum mencapai otak, seperti orang yang mengalami depresi, mereka mengatakan bahwa mereka baik-baik saja dan tidak merasa sakit atas apa yang sedang mereka alami. Sinyal nyeri tersebut diblokir unruk memungkinkan sensasi emosi bergerak ke otak, sehingga kedua jaringan saraf berbagi jaringan yang sama (Samiadi, 2020).

Tidak sedikit penderita Smilling Depression kurang mengetahui dan sadar mengenai apa yang mereka rasakan bahwa mereka sebenarnya membutuhkan pertolongan di balik senyum cerianya. Smiling depression tentu dapat dicagah sebelum berkembang menjadi depresi yang lebih parah yang dikhawatirkan dapat berujung suicidal.

Bagaimana Mengatasi Smilling Depression?

Meditasi dan aktivitas fisik telah terbukti memiliki manfaat untuk kesehatan mental yang luar biasa. Bahkan sebuah studi yang dilakukan oleh Rutgers University di Amerika Serikat menunjukkan bahwa seseorang yang telah bermeditasi dan beraktivitas fisik dua kali dalam seminggu mengalami penurunan hampir 40% tingkat depresi mereka dalam waktu delapan minggu.

Ahli saraf Austria Viktor Franl menulis bahwa kunci dari kesehaan mental yang baik adalah memiliki tujuan hidup. Ia mengatakan bahwa kita seharusnya tidak berusaha berada dalam “keadaan tanpa ketegangan”, bebas dari tanggun jawab dan tantangan, namun kita harus berjuang untuk sesuatu dalam hidup.

Sumber: https://kumparan.com/zanubanana12/bahaya-di-balik-senyuman-palsu-1um6rbBWItS/full, https://kumparan.com/nadiyah-fadhilatun-nisa/mengenal-lebih-jauh-tentang-smiling-depression-1utUGhlY98P/full dan https://theconversation.com/bahaya-di-balik-depresi-tersenyum-ini-cara-mengobati-hati-yang-kacau-balau-114613.

Share on :