Cara Mengubah Pola Kebiasaan Buruk


Tidak Mudah Mengubah Kebiasaan

Sejak kecil, kita sudah telanjur dididik untuk mengembangkan pikiran saja, untuk mengembangkan lapisan kesadaran ketiga saja. Bahkan seluruh sistem pendidikan kita mengacu pada pengembangan pikiran, pada intelektualitas, kesarjanaan, kecendekiaan; peraihan gelar, angka, ranking, dan rating saja—belum terjadi pengembangan inteligensi, intuisi, kebijaksanaan, kemanusiaan.

Sementara ini, yang diupayakan berkembang hanyalah insting-insting dasar kita, yang sesungguhnya adalah sama dengan bentuk-bentuk “hewan” lainnya. Urusannya sekadar survival, bertahan hidup—makan, minum, tidur, dan reproduksi, seks. Itu saja. Peraihan gelar pun sekadar untuk mendapatkan penghasilan dan kedudukan yang lebih tinggi. Tidak ada urusan lain.

Orangtua pun mendorong anaknya untuk sekadar menjadi “pintar”—tidak peduli bila nanti sang anak menjadi “pinter-pinteran”, Tidak peduli jika kelak akalnya digunakan untuk “mengakali” orang lain.

Punya uang, punya kedudukan, sudah dianggap berhasil. Tidak peduli jika uang dan kedudukan itu tidak membahagiakan diri.

Kesenangan dan kenyamanan sesaat dianggap kebahagiaan. Padahal segala kenikmatan yang bersifat sesaat itu hanyalah fatamorgana, bayang-bayang yang memberikan kesan realitas atau mirage.

Sadar atau tidak, selama ini kita mengejar bayang-bayang. Seperti seorang yang berada di tengah padang pasir, ia mendapatkan kesan ada mata air di kejauhan. Ia berlari-lari mendekati “kolam” yang sesungguhnya bukan kolam, tidak ada air di sana. Apa yang dilihatnya adalah bayang-bayang saja.

Demikianlah keadaan kita saat ini. Inilah penyebab stres dan berbagai macam gangguan kesehatan.  Kita perlu mengembangkan kelima lapisan kesadaran secara utuh untuk mengutuhkan hidup manusia.

Selama ini kita sudah terbiasa bertindak sesuai dengan kehendak gugusan pikiran dan perasaan atau mind. Ya, selama ini kita terkendali oleh lapisan kcsadaran ketiga. Sekarang, untuk mengembangkan lapisan-lapisan berikutnya, kita harus melawan arus, tidak lagi mengikuti arus.

Mengubah Pola Kebiasaan Buruk Dengan Meditasi Sehari-Hari

Pengetahuan tidak bisa mengubah pola kebiasaan tanpa praktek perubahan sehari-hari. Seorang yang terbiasa merokok tahu bahwa merokok itu merugikan kesehatan. Akan tetapi dia tetap merokok karena sudah terbiasa. Dia harus melakukan perubahan tidak merokok setiap hari sampai menjadi kebiasaan baru,

Latihan Meditasi Ananda’s Neo Self Empowerment di Anand Ashram akan mengembangkan kelima lapisan kesadaran kita secara untuh, tidak hanya mengembangkan lapisan kesadaran ketiga, mental/emosional saja.

Latihan-latihan tersebut adalah:

  • Latihan Pertama: Relaksasi Kilat dan Memperbaiki Pola Napas.
  • Latihan Kedua: Membudayakan Emosi & Pembersihan Aura.
  • Latihan Ketiga: Membudayakan Suara & Terapi untuk  Bebas dari Rasa Tegang.
  • Latihan Keempat: Membudayakan Pandangan dan Mengembangkan Kasih serta Intuisi.
  • Latihan Kelima: Membudayakan Pikiran & Peningkatan Kesadaran.

Meditasi Bukan Mindfulness

Meditasi itu sendiri, sesungguhnya adalah sebutan bagi suatu keadaan – keadaan meditatif. Keadaan penuh perhatian atau kesadaran, attentiveness. Bukan mindfulness yang saat ini sering digunakan.

Mindfulness adalah keadaan kita saat masih berada pada lapisan ketiga. Sebab itu banyak orang yang merasa sudah “bermeditasi” dan sudah menjadi “mindfull” masih saja terjebak dalam permainan gugusan pikiran dan perasaan. Masih egois.

Attentiveness adalah hasil dari perkembangan lapisan kesadaran ke empat atau inteligensia. Saat seseorang sudah tidak lagi menempatkan kepentingan pribadi/diri, keluarga, kelo,pok, atau umatnya di atas kepentingan orang lain, di atas kepentingan umum.

Sumber: (Krishna, Anand. (2016). Ananda’s Neo Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Share on :