Cara Mengembangkan Rasa Percaya Diri dan Mandiri


Apakah Kelemahan kita:

kelemahan kita adalah,

kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa,

sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri,

kurang mempercayai satu sama lain,

padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong

Untuk Mendirikan Bangunan Masa Depan yang Kukuh 

Kau mesti mempelajari kekuatan fondasi bangunan itu. Bukan untuk mengagung-agungkan belaka, tetapi untuk memenuhi syarat utama sebelum mulai membangun. Tanpa mengetahui kekuatan fondasi, bangunan yang kau dirikan akan runtuh sebelum digunakan.

Katakan dengan kepala tegak “aku peduli masa lalu, karena aku hendak membangun.” Biarlah mereka yang tidak tahu seluk-beluk bangunan mendirikan bangunan mereka di atas rawa. Kau mesti membangun di atas fondasi yang kuat.

Bila fondasi itu ternyata tidak kuat, perkuatlah dengan membangun tiang-tiang tambahan, seperti yang dilakukan oleh para pendiri Republik Indonesia modern. Ya, “para pendiri bangsa Indonesia”, karena sekali lagi, bangsa Indonesia sudah ada sejak ribuan, bahkan ratusan ribu tahun yang lalu. Kendati, dengan sebutan yang beda.

Menumumbuhkembangkan Rasa Percaya Diri

Banyak kesalahan yang telah terjadi di masa lalu. Adalah tugas dan kewajiban kita untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Karena lupa sejarah, kita tidak percaya diri. Adakah kita mengingat bahwa:

  1. Berdasarkan fosil Homo Erectus “Java Man”, para peneliti modern bisa memastikan bahwa kepulauan kira sudah berpenduduk tetap sejak 500.000 hingga 2 juta tahun yang lalu.
  2. Hingga 14.000 tahun yang lalu, hampir seluruh kepulauan kita dan Negara-negara yang saat ini bergabung dalam ASEAN masih merupakan satu daratan dan bagian dari anak benua besar yang disebut Jambu Dvipa, karena tanaman jambu kira yang beragam, besar dan sangar lezat (Sumber : Berbagai penelitian yang kemudian pada tahun 1998 dirangkum oleh ilmuwan Oppeinheimer, sejarah agama Jain dan situs www.absoluteastronomy.com).
  3. Setelah nerulang kali meletusnya gunung-gunung besar di kawasan kita, “lahirlah” kepulauan Nusantara yang juga disebut Dvipantara, pulau-pulau antara bagian yang tersisa dari Jambu Svipa (sekarang Pakistasn, India, Nepal dan Bangladesh) dan benua lain, yaitu Astraalaya atau yang sekarang disebut Australia (Sumber: “Atlantis, the Last Continent Finally Found”, oleh Prof. Arysio Nunes Santos, seorang ahli Fisika Nuklir asal Brazil, dll).
  4. Jauh sebelum tarikh Masehi, kita sudah memiliki hubungan dagang dengan India dan Cina.
  5. Setidaknya sejak abad kedelapan kita sudah “menguasai” cara bercocok tanam, khususnya padi secara efisien.
  6. Sejak awal era Masehi, kita sudah memiliki kerajaan-kerajaan kecil yang berdaulat.

Data tersebut hanyalah sedikit dari sekian banyak fakta sejarah yang dapat dicari dengan mudah lewat situs-situs Internet maupun perpustakaan-perpustakaan online.

Karena lupa sejarah, kita lupa jati diri. Dan karena lupa jati diri, kita tidak percaya diri. Sekarang, untuk menumbuhkembangkan rasa percaya diri, kita mesti mengenal jati diri kita sebagai bangsa yang besar. Untuk itu, kita mesti mengenal sejarah kita.

Postur Kemandirian Dan Percaya Diri

Untuk menumbuhkan rasa percaya diri berikut ini merupakan postur kemandirian dan menumbuhkan rasa percaya diri:

  1. Berebahan terlentang. Kedua kaku renggang. Jarak ideal antara kedua kaki adalah sama dengan lebar pundak Anda. Demikian, kaki anda akan merasakan rileksasi yang luar  biasa. Lengan pun renggang, tidak menyentuh badan. Telapak tangan terbuka, miring sedikit.

Dalam keadaan ini, berdialoglah dengan badan Anda, mulai dari kaki sampai kepala. Silakan menggunakan cara, gaya dan bahasa sendiri, contoh:

Kakiku tenang, rileks, santai… selama ini kau telah menyangga badanku dan mungkin aku tidak begitu memperhatikan kamu. Kendati demikian kau selalu setia. Maafkan aku. Tenanglah kakiku… Kaki kanan dan kaki kiriku, tenanglah kalian berdua. Rileks, santai… Betis, lutut dan pada sebelah kanan, betis, lutut dan paha sebeleah kiri, tenang pula kalian. Rileks, santai…

Perutku, aku sadar selama ini aku telah membebani kamu dengan segala macam makanan. Maafkan aku dan teenanglah, kawanku. Rileks santai….

Dan demikian seterusnya dengan setiap anggota tubuh, termasuk dubur dan alat kelamin. Sampai kepala dan bagian belakang tubuh. Biasanya Anda membutuhkan waktu 3-7 menit untuk langkah ini. Jka Anda tidak punya waktu banyak, bisa berebahan tanpa dialog. Rileks saja. Tetapi jika punya waktu cukup, sebaiknya melakukan dialog ini. Manfaatnya akan langsung terasa.

2. Kembali ke posisi duduk dengan memiringkan badan ke satu sisi. Demikian anda tidak akan memeberi beban kepada jantung. Pelan-pelan, jangan tergesa gesa dan jangan membuka mata.

3. Kembali duduk dalam posisi bersila atau di atas kedua tumit. Tarik napas dan buang napas pelan-pelan. Lakukan tiga kali. Ucapkan dalam hati “ Sekarang aku bebas dari rasa takut, cemas, gelisah dan khawatir. Aku percaya diri. Aku mandiri”. (Anda bisa menambah kata-kata lain setelah “Khawatir” misalnya “Minder”, “Susah” apa saja).

4. Sebelum membuka mata pelan-pelan, ucapkan terima kasih kepada Tuhan, Allah, Bapa di Surga, Sang Hyang Widhi, Thien, Tao, Buddha, Satnaam, Keberadaan atau apa pun Nama yang Anda berikan kepada-Nya. Ucapkan terima kasih untuk hari yang baru, hari yang cerah, hari yang penuh harapan, hari ANDA.

A ZOOM FESTIVAL FOR ALL!!!
13th International Bali Meditators’ Festival!
“May All Beings be Happy & Free of Illness”

Curtain Raiser: Workshop “Yoga Sutra & Kaitannya dengan Perjalanan Jivatma” (bahasa)
Minggu, 25 April 2021 at 08.30 – 11.00 WIB
Only IDR 180K (incl. book)

Klik Disini untuk Registrasi atau Klik pada Gambar

Share on :