Berpikir itu Pelita Hati


What a man takes in by contemplation,

that be pours out in love.

Hasil perenungan seseorang adalah

karya nyatanya dalam kasih

Meister Eckhart (1260-1328) – Pemikir Asal Jerman

Banyak istilah lain untuk “pikir”, yang seseungguhnya berasal dari kata “fiqr” dalam Bahasa Arab/Persia Kuno, misalnya eling dan manekung, kedua-duanya memiliki multiarti: mengingat, merenungkan, memikirkan atau merasakan dengan penuh kesadaran. Kedua kata tersbut juga sering digunakan dalam konteks “meditasi”.

Berpikir Bukan pekerjaan sembarang Orang

Bukan seperti makan, minum, tidur dan sebagainya. Ini adalah pekerjaan mereka yang siap menjelajahi kedalam jiwanya. Ini merupakan pekerjaan mereka yang ingin mencari makna kehidupan dan bukan sekedar menjalaninya saja.

Mayoritas di antara kita sekedar menjalani hidup sehingga jika ditanya “Hidup untuk apa?” kita bingung sendiri. Kemudian ketika kita mendengar wawancara “mengalirlah seperti sungai”, kita merasa terhibur. Ngalir, ngalir, ayo ngalir.. bukankah kita semua sudah sejak dulu mengalir seperti sungai? Tidak disuruh pun sudah mengalir. Sungai mengalir menuju lautan bebas, kita mengalir untuk terjun bebas kedalam kegelapan maut.

Mengalir bersama Kehidupan

Leluhur kita mengajak kita untuk berhenti mengalir sejenak dan merenung : “Untuk apa hidup ini? Apa tujuan hidupku? Aku datang dari mana? Aku sedang menuju apa? Aku siapa?”

Tidak semua orang dapat berhenti sejenak untuk menoleh ke dalam diri kita masing-masing dan mereka yang dapat melakukan renungan disebut para pemeikir dalam arti para perenung. Para perenung tersebut adalah pencari makna hidup dan siap mewarnai hidup mereka sesuai dengan pilihan warna-warna mereka sendiri.

Mereka tidak ingin hanyut atau menyia-nyiakan kehidupan ini dan mereka siap untuk melawan tantangan di kehidupan ini. Semangat kesatria se[erti inilah yang diharapkan para leluhur kita. Mereka hidup sebagai seorang kesatria dan mengharapkan supaya kita pun hidup sebagai kesatria.

Apa yang terjadi ketika kita sedang Berpikir?

Saat berpikir kita mencari energi yang dahsyat. Bagaimana bisa? Karena ketika kita sedang berhenti sejenak untuk merenung dan melawan arus terjadilah friksi. Dan friksi ini menghasilkan energi.

Mereka yang sedang mengalir seperti sungai memang tidak memboroskan energi. Mereka tidak perlu melakukan sesuatu, karena arus membawa mereka. Dan mereka pun tidak menghasilkan energi tambahan. Boleh-boleh saja, jika itu telah menjadi pilihan Anda. Silahkan mengalir, hanyut dan menyalahkan diri Anda sendiri kemudian.

Siapa yang dapat menyalahkan Anda? Anda sedang menjalani hidup dengan cara dan gaya Anda sendiri. Siapa yang mesti berkeberatan? Asalkan Anda juga tidak mengharapkan sesuatu yang “luar biasa” dalam dan dari hidup Anda.

Berpikir itu Pelita Hati

Demikian bunyi petuah ini. Dengan eling, berkesadaran, berhenti sejenak dan menoleh ke dalam diri, Anda menemukan sumber kekuatan diri di dalam diri. Anda menambah minyak pada Pelita Hati yang sesungguhnya tidak pernah padam itu sehingga semuanya menjadi terang-benderang. Dan, Anda menemukan harta karun kesadaran.

Kesadaran ini pula uang selanjutnya diterjemahkan lewat karya nyata. Kesadaran ini dituangkan dalaam pekerjaan Anda, profesi Anda, bahkan hobi Anda. Pengungkapan kasih seperti inilah kasih. Ketika Anda dapat meluangkan waktu untuk berhenti sejenak, merenung, meniti kedalam diri, meditasi, Anda ajan menemukan cinta sejati, tujuan, makna, arti hidup. Silahkan mencoba..

SEGERA IKUTI!

Kelas Meditasi dan Yoga bersama AKC Joglo Semar via ZOOM Online Selama Pandemi

  • Ananda’s Neo Self Empowerment : Setiap Kamis Pukul 19.00
  • Ananda’s Neo Kundalini Yoga : Setiap Rabu Pukul 19.00

Informasi dan Pendaftaran: 087888858858 / 0816677225 / 082227774618

Sumber : Buku Javanese Wisdom – Anand Krishna

Share on :