Apakah Inteligensi sama dengan Kecerdasan?


Inteligensi adalah kemanusiaan dalam diri manusia, yang dapat berkembang secara utuh ketika gugusan pikiran dan perasaan terlampaui. Kemudian intelektualitas dapat diperoleh dari sumber-sumber di luar diri dan dapat diperoleh dari pendidikan. Saya dapat menguasai teknologi dan menjadi teknokrat.

Anda dapat menguasai berbagai macam ilmu dan menjadi intelektual. Tetapi belum tentu kita memiliki inteligensi sehingga disebut manusia yang manusiawi. Jadi inteligensi bukanlah intelektualitas.

Kemanusiaan di dalam Diri Manusia

Kebijakannya, nuraninya, sesuatu yang sesungguhnya melekat pada diri setiap anak manusia itulah inteligensi.

Siapa yang mengajarkan bagaimana cara mendapatkan air susu dari ibu?

Ini merupakan bagian dari inherent intelligence. Suatu program yang sudah embedded, pre-installed. Alam sudah menempatkan inteligensi ini dalam diri kita sejak kelahiran kita. Sayang, beribu-ribu kali sayang, banyak yang bahkan tidak sadar bila memiliki program sehebat itu. Kita menyia-nyiakan alat badan kita, alat diri kita untuk melakukan hal-hal sepele yang tidak berarti. Padahal kita memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal yang lebih besar.

Padahal, di masa lalu Bapak Pendidikan Kita

Ki Hajar Dewantara sudah mencanangkan pelajaran budi pekerti untuk mengasah dan memanfaatkan inteligensi. Tujuan pendidikan ini terlupakan sudah. Sayang, ada yang malah menerjemahkan atau menyamakan budi pekerti dengan pendidikan moral.

Tidak, budi pekerti tidak sama dengan moral atau moralitas. “Budi Pekerti” berarti Buddhi (inteligensi atau kebijakasanaan atau kesadaran prima, kesadaran dasar, kesadaraan utama). Yang kita peroleh dari Prakriti atau alam.

Ajaran moral diperoleh dari masyarakat, dari norma-norma kemasyarakatan, dari adat istiadat, dari nilai-nilai sosial yang dapat berubah mengikuti zaman, mengikuti suatu situasi dan kondisi. Bahkan dalam situasi dan kondisi yang sama pun, apa yang dianggap moral oleh suatu kelompok belum tentu moral bagi kelompok lain.

Sementara itu…

Budi pekerti mengandung values atau nilai-nilai luhur yang bersifat universal, langgeng, abadi dan tidak pernah kadaluwarsa. Hasil dari pendidikan ber-Budi Pekerti atau apa yang saya sebut Value Based Education (bukan moral education) adalah keseimbangan diri, kebijaksanaan, kesadaran.

Selama sistem pendidikan formal maupun informal, akademis maupun non-akademis, masih berkutat dengan lapisan gugusan pikiran dan perasaan saja, maka hanyalah intelektualitas yang dikembangkan dan diasah. Hasilmya sekadar ijazah yang belum tentu bisa menghasilkan pekerjaan pula.

Pendidikan ber-Budi Pekerti

Pendidian yang mengandalkan pengalaman pribadi, bukan pelajaran dari buku semata. Ajaklah anak-anak Anda untuk mengobservasi alam dan belajar dari matahari (surya), dari bulan (Chandra), dari bumi (bumi), dari sungai (baruna), api (agni) dan angin (maruta) yang memberi tanpa pamrih, tanpa pilih kasih, serta memahami kematian (yama), bahwasannya segala sesuatu yang berawal akan berakhir, supaya tidak arogan dan mencontohi kepemimpinan seorang pemimpin yang bijak (indra), sekaligus menghindari kesalahan-kesalahan yang bisa saja terjadi jika tidak eling, tidak waspada. Inilah yang dalam tradisi leluhur kita disebut Ashta-Brata, delapan pedoman Luhur.

Ketika kita membuka diri dan mulai belajar dari alam

Maka alam semesta pun membuka khazanahnya berupa pengalaman-pengalaman yang tak terhingga nilainya. Belajar dari alam berarti menjadi anak alam, bukan anak kelompok tertentu. Dan apa yang dipelajari adalah kemanusiaan, keutuhan, kemuliaan, bukan kelompoknisme.

Mind atau gugusan pikiran dan perasaan tidak mampu melihat segala sesuatu sebagai bagian dari suatu keutuhan dan bahwasannya perbedaan hanya terlihat pada permukaan, maka mesti diapresiasi sebatas itu. Tidak lebih, tidak kurang.

Mind hanya mampu memecah belah. Kadang ia akan mengagung-agungkan keseragaman, kadang keberagaman. Kadang ia berada pada ekstrem kiri, kadang pada ekstrem kanan. Mind bisa membuat kita menjadi sontoloyo, pasif total atau dinamis secara berlebihan. Sontoloyo atau over-dinamis adalah mind yang menyebabkan stress, kegelisahan dan sebagainya. Kita dibuat berjungkat-jungkit bersamanya.

Satu-satunya Solusi       

Adalah dengan melampaui Mind dengan memasuki wilayah Inteligensi, kesadaran, tempat kita dapat menerima kehidupan seutuhnya. Pelampauan mind atau gugusan pikiran dan perasaan juga dapat diartikan sebagai transformasi total mind menjadi inteligensi. Ampas-ampasnya tiada lagi yang tersisa.

Dalam tahap perkembangan Intelegensi

Barulah kemanusiaan dalam diri manusia mulai berkembang. Ia baru bisa memilah antara  apa yang sekadar menyenangkan, menyamankan dan apa yang sungguh membahagiakan. Ia mulai melihat sesama makhluk hidup sebagai bagian dari kehidupan yang utuh, dari suatu living organism yang sama. Ia tidak bisa lagi menikmati daging “sesama makhluk hidup”.

Share on :